Selamat Datang!

Blog Bedah Umum FKUI merupakan sarana berbagi informasi mengenai tatalaksana kasus bedah, karya tulis para residen, informasi akademis, wacana dunia bedah hingga kegiatan-kegiatan kami. Blog ini dibuat pada tahun 2009 dan dikelola oleh residen Ilmu Bedah FKUI. Diharapkan blog ini bisa menjadi sarana berbagi kabar, informasi, serta berdiskusi antar konsulen, trainee, dan residen bedah baik dari FKUI maupun fakultas kedokteran lain di Indonesia. Semoga kehadiran blog ini dapat memperkaya wawasan dan keilmuan kita sebagai Dokter Spesialis Bedah maupun calon Dokter Spesialis Bedah masa depan. Semoga bermanfaat!

Sabtu, 02 Juli 2011

Metode FAST dalam Membantu Menentukan Tindakan pada Kasus Trauma Tumpul Abdomen




Hendriek Siahaan , Benny Philippi

Latar Belakang: 
FAST (Focused Assessment with Sonography for Trauma) pertamakali dikemukakan oleh Rozycki dkk. (1996).1,2,5 Pada saat awal ditemukannya FAST, paradigma yang berkembang  yaitu pada saat didapatkan cairan bebas intraperitoneal dengan FAST maka dianggap sudah terjadi trauma yang hebat sehingga membutuhkan tindakan laparotomi eksplorasi kemudian pada tahun 1999 Consensus Conference on the Performance of Ultrasound in Trauma  abdomen, 4. hemodinamik stabil, FAST (-) à1,3,6 membuat panduan pada kasus trauma tumpul abdomen sebagai berikut: 1. Pasien dengan hemodinamik tidak stabil, FAST (+) langsung dilakukan laparotomi, 2. Pasien hemodinamik tidak stabil, FAST (-) harus dicari sumber perdarahan lain, 3. Pasien dengan hemodinamik stabil, FAST (+) dilakukan CT Scan pemeriksaan serial per 6 jam (USG/CT Scan)
Tujuan: 
Mengetahui metode FAST dalam membantu mempercepat keputusan penanganan pasien trauma tumpul abdomen.
Metode: 
Penelitian retrospektif dari data rekam medis pasien trauma tumpul abdomen yang datang ke Instalasi Gawat Darurat RS. Cipto Mangunkusumo Jakarta sejak awal bulan Januari 2004 – 31 Desember 2009.
Hasil: 
Pada periode lima tahun didapatkan 73 pasien trauma tumpul abdomen dimana usia terbanyak yang mengalami trauma tumpul abdomen adalah antara 21 – 30 tahun yaitu sebanyak 31 pasien (42,47%) dengan jenis kelamin terbanyak dialami oleh laki-laki yaitu sebanyak 65 pasien (89,04%). Jumlah pasien dengan kondisi hemodinamik tidak stabil sebanyak 19 pasien (26.03%) dan 54 (73,97%) pasien dengan hemodinamik stabil. Jumlah pasien yang memerlukan tindakan operasi (laparotomi) adalah sebanyak 42 pasien (57,53%) dan 30 pasien (41,10%) hanya dilakukan tindakan konservatif. Jumlah pasien dengan hemodinamik tidak stabil dan dilakukan operasi (laparotomi) sebanyak 17 pasien (23,29%) dan jumlah pasien dengan hemodinamik stabil yang dilakukan operasi adalah sebanyak 25 pasien (34,25%). Berdasarkan perbandingan hasil pemeriksaan FAST dengan temuan intraoperatif didapatkan bahwa pada pasien dengan cairan bebas di Morison’s pouch, splenorenal pouch, parivesika dan parakolika didapatkan temuan intraoperatif jumlah perdarahan lebih dari 1000 cc sebanyak 13 pasien dan terdapat 2 pasien dengan hasil FAST positif  pada salah satu tempat di intraperitoneal tetapi pada temuan intraoperatif didapatkan cairan bebas sebanyak lebih dari 1000 cc. Pada temuan intraoperatif didapatkan ruptur lien sebanyak 12 pasien, rupture hepar sebanyak 8 pasien, perforasi viscus sebanyak 4 pasien, dan  cedera retroperitoneal  sebanyak 9 pasien.
Kesimpulan: 
Adanya cairan bebas yang menempati banyak tempat di intraperitoneal pada metode FAST merupakan sinyal bagi kita untuk mempertimbangkan tindakan laparotomi segera.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar