Selamat Datang!

Blog Bedah Umum FKUI merupakan sarana berbagi informasi mengenai tatalaksana kasus bedah, karya tulis para residen, informasi akademis, wacana dunia bedah hingga kegiatan-kegiatan kami. Blog ini dibuat pada tahun 2009 dan dikelola oleh residen Ilmu Bedah FKUI. Diharapkan blog ini bisa menjadi sarana berbagi kabar, informasi, serta berdiskusi antar konsulen, trainee, dan residen bedah baik dari FKUI maupun fakultas kedokteran lain di Indonesia. Semoga kehadiran blog ini dapat memperkaya wawasan dan keilmuan kita sebagai Dokter Spesialis Bedah maupun calon Dokter Spesialis Bedah masa depan. Semoga bermanfaat!

Sabtu, 02 Juli 2011

Karakteristik Pasien dengan Akses Vaskuler Hemodialisa (Fistula A-V) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Periode Januari - Desember 2010




Faruly Wijaya S. Limba,  Dedy Pratama 
 
Latar Belakang: 
 Insiden  pasien gagal ginjal kronik (GGK) stadium akhir cenderung meningkat. Hemodialisa telah diterima sebagai suatu  metode perawatan pada pasien GGK stadium 5. Akses vaskuler hemodialisa yang ideal adalah akses yang mampu memfasilitasi dialisis yang adekuat, angka patensi yang sempurna, sedikit komplikasi dan mudah dibuat. Fistula A-V merupakan akses vaskuler yang paling mendekati ideal, sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien GGK.
Metode: 
Penelitian retrospektif, dengan desain deskriptif. Data diperoleh dari arsip form operasi fistula A-V di Divisi Vaskuler dan Endovaskuler Departemen Ilmu Bedah FKUI-RSCM tahun 2010 dan dari rekam medis pasien. Pengolahan data dilakukan dengan SPSS 16.0
Hasil: 
Dari  total 148 subjek penelitian yang diteliti, pasien pria, sebesar 64,2%. Pada 116 subjek, yakni terdapat 4 orang (3,4%) pada kategori usia 11- 20 tahun, 9 orang (7,8%) usia 21-30 tahun, 12 orang (10,3%)  usia 31- 40 tahun, 28 orang (24,1%) usia 41- 50 tahun, 35 orang (30,2%)  usia 51- 60 tahun, 24 orang (20,7%)  usia 61- 70 tahun, dan 4 orang (3,4%)  usia 71 - 80 tahun. Penyebab utama gagal ginjal adalah hipertensi sebesar 37,9%, diabetes mellitus sebesar 30,2%, batu ginjal (9%), genetik (4%), autoimun (3%), dan penyebab lain (21%). Faktor risiko lain yang menyertai penyebab utama adalah penyakit jantung (17,6%), hiperkolesterolemia  (8,4%), serta usia tua (7,6%). Dari subjek – subjek penelitian yang diteliti ini, 29 subjek (19,6%) sudah pernah dilakukan pembuatan AV Shunt sebelumnya. Lokasi pembentukan AV shunt pertama terbanyak adalah pada wrist kiri (33,3%). Lokasi lainnya adalah cubiti kiri (30,3%), wrist kanan (6,1%) dan  lainnya (30,3%). Kemudian pada pembentukan AV Shunt kedua, lokasi AV shunt tersering adalah cubiti kanan (36,4%).  Lokasi lainnya adalah wrist kanan (27,3%), cubiti kiri (9,1%), wrist kiri (9,1%) dan lainnya (18,2%). 69,6% pasien tidak memakai double lumen, sisanyatidak memakai double lumen. Lokasi double lumen terbanyak adalah jugular (45,9%), subclavia (32,4%) dan lainnya (21,7%). Operator  tindakan pemasangan  AV Shunt oleh trainee bedah vaskuler yaitu 53,4%, 36,3% oleh konsultan bedah vaskuler, dan 10,3% oleh residen bedah umum. Kondisi vena superficial, 85,6% baik, sedangkan sisanya (14,4%) buruk. Sebanyak 6,6% subjek terdapat kalsifikasi vena. Kondisi arteri, 91% baik, sedangkan 9% buruk. Pada 17 orang (12,4%) terdapat kalsifikasi pada arterinya, sisanya (87,6%) tidak mengalami kalsifikasi. Diameter  vena superfisialis terkecil adalah 1 mm, terbesar 7 mm, rata -rata 2,9 mm dengan standard deviasi 1,17 mm. Sedangkan diameter  terkecil adalah 3 mm, terbesar 9  mm, rata - rata 3,4 mm dengan standard deviasi 1,44 mm. Anastomosis yang dilakukan, 88 orang (62%) pada direct elbow, 31 orang (21,8%) pada direct wrist, 16  orang (11,3%) direct access, dan lain - lain 7  orang (4,9%). Lamanya  operasi  memakan  waktu  rata  -  rata 79 menit dengan  standard  deviasi 38  menit.

Kata kunci: Gagal ginjal kronik stadium akhir, akses vaskuler hemodialisa, fistula A-V

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar