Selamat Datang!

Blog Bedah Umum FKUI merupakan sarana berbagi informasi mengenai tatalaksana kasus bedah, karya tulis para residen, informasi akademis, wacana dunia bedah hingga kegiatan-kegiatan kami. Blog ini dibuat pada tahun 2009 dan dikelola oleh residen Ilmu Bedah FKUI. Diharapkan blog ini bisa menjadi sarana berbagi kabar, informasi, serta berdiskusi antar konsulen, trainee, dan residen bedah baik dari FKUI maupun fakultas kedokteran lain di Indonesia. Semoga kehadiran blog ini dapat memperkaya wawasan dan keilmuan kita sebagai Dokter Spesialis Bedah maupun calon Dokter Spesialis Bedah masa depan. Semoga bermanfaat!

Tampilkan postingan dengan label Abstract. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abstract. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2011

Epidemiological Evaluation of Colorectal Cancer at Cipto mangunkusumo Hospital from 2000-2010



Yusak Kristianto, Ibrahim Basir

Purpose:
The incidence of colorectal cancer (CRC) is on the rise, and is the third leading cause of death worldwide. This descriptive study presents the epidemiology of CRC in Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta, Indonesia in the past decade, from year 2000-2010.

Methods:
Data is obtained retrospectively from the colorectal database of the Division of Digestive Surgery, Department of Surgery, Faculty of Medicine, University of Indonesia-Cipto Mangunkusumo Hospital. CRC cases presented to us between the year 2000-2010 were included. The variables analyzed include age, gender, anatomical location of the tumor, presenting symptoms, histopathology type, and staging.

Results:
A total of 662 patients with CRC were included in the study. No patient was excluded, the ones with incomplete medical data will be noted. Fifty-two percent of subjects were male, 44,1% were female, giving a ration of 1,2:1. Age were grouped according to Sturgess formula with 7-year interval per group. Most patients belong to the 45-53 years age group (21,8%). Mean age was 50,67 years, the youngest being 18 year-old and the oldest 86 year-old. Fifty-five percent of CRC was located within the rectum. The most common presenting symptoms of CRC located within the colon are changes in bowel habit (83,8%), abdominal pain (65,5%), and palpable abdominal mass (40%). In rectal cancer, patient mostly complain of a change in defecation habit (95,7%), rectal bleeding (85,3%), and mucous faeces (68,2%). Weight loss is found in 33,5% patients. Adenocarcinoma comprises up to 71,6% of cases. Forty-four point four percent of patients were diagnosed at stage III.

Conclusion:
We compare our CRC epidemiologic characteristic to those of the United States National CRC and United Kingdom. A striking difference in the incidence of colorectal cancer by age distribution between Indonesia and other countries (Irak, Iran, Egypt, Saudi Arabian, Jordanian) compared to the western countries. In our institution, similar to other Asian countries, CRC seems to occur most frequently within the younger population (under 45 year-old). In the western countries most CRC are found in population older than 65 years. We also find that there’s no difference between male and female about the incidence of rectal cancer, as found in US, where male has a higher incidence. Another notable difference are the stage of disease at time of presentation. Patients usually present in a more advanced stage in our country and the Asian region (stageIII) compared to that of overseas where cases are detected at earlier stage. A later-stage at presentation translates to a decreased chance of resectability and curability. The most likely cause of this phenomena is allegedly due to the lower health awareness among our population, leading to the delay in seeking medical attention, hence later diagnosis. This finding suggest the need of reinforcing a more reliable community screening program to increase the awareness of early signs of CRC, especially in patients with high risk factors.

Keyword: epidemiology, colorectal cancer, Indonesia

Evaluasi Pembedahan pada Massa Periappendikuler



Syaharudin, Aryono D Pusponegoro

Latar Belakang:
Tatalaksana massa periappendikuler sampai saat ini masih kontroversial. Belum ada satupun yang diterima secara universal, namun pendekatan appendisektomi interval masih dianut oleh sebagian besar ahli bedah, sementara tatalaksana konservatif dan appendisektomi segera belum banyak diteliti. Penelitian retrospektif ini dilakukan untuk mengevaluasi keamanan dan kelayakan prosedur pembedahan appendisektomi segera pada pasien dengan massa periappendikuler.

Metode:
Penelitian dilakukan di RSUD Tangerang selama bulan Januari 2011. Penelitian bersifat retrospektif deskriptif. Terdapat 27 pasien dengan diagnosis massa periappendikuler dan dilakukan operasi appendisektomi segera selama periode 3 tahun (Januari 2008 sampai Desember 2010). Data demografik, klinis, pemeriksaan penunjang, lama rawat dan kompliasi intraoperasi dan pasca operasi dianalisis.

Hasil:
Terdapat 17 (62,9%) wanita dan 10 (37%) laki-laki dengan rerata usia 30,29 (13-60) tahun yang diikutkan dalam penelitian ini. Semua pasien dilakukan operasi appendisektomi segera setelah diagnosa ditegakkan. 75% dilakukan dengan insisi pararectal,. Rerata waktu yang dibutuhkan 62,33 menit, dengan lama rawat pascaoperasi 3,96 hari. Komplikasi didapatkan pada 5 (18,5%) kasus, berupa 3 kasus reseksi parsial omentum, 1 kasus hemikolektomi kanan karena kecurigaan tumor, dan 1 kasus cedera sekum. Komplikasi pascaoperasi didapatkan 1 kasus berupa infeksi luka operasi.

Kesimpulan:
Terapi pembedahan pada pasien dengan massa periappendikuler bisa diterima, aman, dan mencegah adanya misdignosis dan terapi yang disebabkan oleh kelainan patologis bedah yang lain. Diperlukan penelitian prospektif yang membandingkan terapi appendisektomi segera dengan modalitas lain.

Kata kunci: massa periappendikuler, konservatif, appendisektomi segera, appenisektomi interval

Karakteristik Pasien dengan Akses Vaskuler Hemodialisa (Fistula A-V) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Periode Januari - Desember 2010




Faruly Wijaya S. Limba,  Dedy Pratama 
 
Latar Belakang: 
 Insiden  pasien gagal ginjal kronik (GGK) stadium akhir cenderung meningkat. Hemodialisa telah diterima sebagai suatu  metode perawatan pada pasien GGK stadium 5. Akses vaskuler hemodialisa yang ideal adalah akses yang mampu memfasilitasi dialisis yang adekuat, angka patensi yang sempurna, sedikit komplikasi dan mudah dibuat. Fistula A-V merupakan akses vaskuler yang paling mendekati ideal, sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien GGK.
Metode: 
Penelitian retrospektif, dengan desain deskriptif. Data diperoleh dari arsip form operasi fistula A-V di Divisi Vaskuler dan Endovaskuler Departemen Ilmu Bedah FKUI-RSCM tahun 2010 dan dari rekam medis pasien. Pengolahan data dilakukan dengan SPSS 16.0
Hasil: 
Dari  total 148 subjek penelitian yang diteliti, pasien pria, sebesar 64,2%. Pada 116 subjek, yakni terdapat 4 orang (3,4%) pada kategori usia 11- 20 tahun, 9 orang (7,8%) usia 21-30 tahun, 12 orang (10,3%)  usia 31- 40 tahun, 28 orang (24,1%) usia 41- 50 tahun, 35 orang (30,2%)  usia 51- 60 tahun, 24 orang (20,7%)  usia 61- 70 tahun, dan 4 orang (3,4%)  usia 71 - 80 tahun. Penyebab utama gagal ginjal adalah hipertensi sebesar 37,9%, diabetes mellitus sebesar 30,2%, batu ginjal (9%), genetik (4%), autoimun (3%), dan penyebab lain (21%). Faktor risiko lain yang menyertai penyebab utama adalah penyakit jantung (17,6%), hiperkolesterolemia  (8,4%), serta usia tua (7,6%). Dari subjek – subjek penelitian yang diteliti ini, 29 subjek (19,6%) sudah pernah dilakukan pembuatan AV Shunt sebelumnya. Lokasi pembentukan AV shunt pertama terbanyak adalah pada wrist kiri (33,3%). Lokasi lainnya adalah cubiti kiri (30,3%), wrist kanan (6,1%) dan  lainnya (30,3%). Kemudian pada pembentukan AV Shunt kedua, lokasi AV shunt tersering adalah cubiti kanan (36,4%).  Lokasi lainnya adalah wrist kanan (27,3%), cubiti kiri (9,1%), wrist kiri (9,1%) dan lainnya (18,2%). 69,6% pasien tidak memakai double lumen, sisanyatidak memakai double lumen. Lokasi double lumen terbanyak adalah jugular (45,9%), subclavia (32,4%) dan lainnya (21,7%). Operator  tindakan pemasangan  AV Shunt oleh trainee bedah vaskuler yaitu 53,4%, 36,3% oleh konsultan bedah vaskuler, dan 10,3% oleh residen bedah umum. Kondisi vena superficial, 85,6% baik, sedangkan sisanya (14,4%) buruk. Sebanyak 6,6% subjek terdapat kalsifikasi vena. Kondisi arteri, 91% baik, sedangkan 9% buruk. Pada 17 orang (12,4%) terdapat kalsifikasi pada arterinya, sisanya (87,6%) tidak mengalami kalsifikasi. Diameter  vena superfisialis terkecil adalah 1 mm, terbesar 7 mm, rata -rata 2,9 mm dengan standard deviasi 1,17 mm. Sedangkan diameter  terkecil adalah 3 mm, terbesar 9  mm, rata - rata 3,4 mm dengan standard deviasi 1,44 mm. Anastomosis yang dilakukan, 88 orang (62%) pada direct elbow, 31 orang (21,8%) pada direct wrist, 16  orang (11,3%) direct access, dan lain - lain 7  orang (4,9%). Lamanya  operasi  memakan  waktu  rata  -  rata 79 menit dengan  standard  deviasi 38  menit.

Kata kunci: Gagal ginjal kronik stadium akhir, akses vaskuler hemodialisa, fistula A-V

Seleksi Donor Living Donor Liver Transplant di Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta





Kristina Maria S,   Toar JM Lalisang, Andri S Sulaeman
 
Pendahuluan
Di Indonesia, penyakit hati kronik merupakan problem kesehatan masyarakat yang sangat besar. Dengan prevalensi hepatitis B sekitar 5-10% dan hepatitis C sebesar 2.5-3.5% maka jumlah penderita penyakit hati kronik di Indonesia bisa mencapai 20 juta penduduk. Transplantasi hepar menjadi pilihan terapi terhadap End Stage Liver Disease setelah keberhasilan Starzl dan Putnam tahun 1967. Survival 5 tahun pasca transplantasi >50%. Seleksi donor yang baik, serta peningkatan tehnik operasi dan anestesi serta pemilihan antrimicroba serta regimen immunosupresi yang tepat meningkatkan keberhasilan transplantasi. Living Donor Liver Transplant merupakan respon dari kebutuhan donor transplantasi hati terutama di Negara yang sulit menerima donor cadaver

Metoda
Tinjauan proses seleksi pasien donor dan resipien dari rekam medis rumah sakit dan literatur.

Hasil
Kedua  kasus LDLT,  donor berasal dari anggota keluarga yang telah memenuhi syarat seleksi donor yang baik . Tahap 1 : riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, tahap 2, penilaian status psikologis, pemeriksan radiologis, tahap 3 biopsi hati dan angiografi serta tahap 4 informed consent, dan cross match. Kasus pertama donor dari anak perempuan kepada ayahnya, dan donor kedua donor dari ayah kepada anak lelakiya. Kedua donor pulang sehat 14 hari pasca operasi.

Kesimpulan
Seleksi donor yang baik sehingga menghasilkan outcome  yang baik

Kata kunci: Living Donor Liver Transplant, seleksi donor, outcome.


Necrotizing Vasculitis in Lucio Phenomenon -An Infrequent Case Reports-





Nyityasmono Tri Nugroho, Dedy Pratama
 
Necrotizing vasculitis leading to cutaneus infarctions is one of entity in Lucio’s phenomenon, an acute lepra reaction in non-nodular diffuse lepromatous leprosy patient. Lucio’s phenomenon is common in Mexico and Central America, but infrequent in other region, include South-East Asia. Prevalence in the second place in the world in number of cases, Brazil, has rates of 4.88 per 10,000 inhabitant. The vasculitis is described by a immune-complex deposition and ischemic necrosis of the epidermis and superficial dermis, heavy infestation of endothelial cells with acid-fast bacilli, and in the deeper dermis can be found endothelial proliferation and thrombosis of larger vessel. Some entities revealed a mimicking with the antiphospholipid thrombotic syndrome (APS), and difficult to distinguished. Lucio’s phenomenon are histologically diagnosed, and anti-leprosy, wound care, antibiotics treated. Here a case, male, 25 y.o, has a purple-bluish color of the tip of digits of bilateral feet and dorsal side of bilateral hand since seven days before admission. He is diagnosed lepra since ten years before admission. Laboratories shows he has APS with elevated anticardiolipin antibodies and beta-2 glycoprotein of immunoglobulin. Under Doppler scanning demarcated a vasculitis without deep vein thrombosis. Histologically revealed a Lucio’s phenomenon lepromatous leprosy type.

Discussion
A Lucio’s phenomenon is a rare cases, and concomittant with APS is a unique entity. Approach of holistic treatment is carefully given, optimal wound care, corticosteroid, leprosy drugs, and antibiotics make a better outcome.

Keywords: Lucio’s phenomenon, antiphospolipid thrombotic syndrome, lepromatous leprosy

'Critical Limb Ischemic' pada Vaskulitis Limfositik Cutaneous




Whiko Irwan Destanto, Dedy Pratama
                                                                                               
Vaskulitis limfositik cutaneous didefinisikan sebagai penyakit autoimun dengan diketemukannya peradangan lokal dari pembuluh darah akibat infiltrasi dinding pembuluh darah  dengan limfosit.Biasanya terjadi pada pembuluh darah kecil, jarang sekali pada pembuluh darah besar.

Melaporkan kasus yang jarang, seorang anak laki-laki  usia 8 tahun dari Indonesia Timur dengan keluhan nyeri dan kehitaman pada ujung-ujung jari kedua tangan dan kaki. Dari pemeriksaan radiologis, imunologi, hematologi dan patologi, ditegakkan diagnosis sebagai  Vasculitis Limfositik.  

Pasien  diberikan  terapi medikamentosa yaitu anti agregasi trombosit, antikoagulan, phlebotonik antibiotik dan kortikosteroid. Setelah damarkasi jelas dan perfusi membaik dilakukan revisi stump dan amputas pada jaringan  nekrotik padai kaki dan tangan.

Kata kunci: Vasculitis , terapi konservatif , amputasi dan revisi stump jari kaki dan tangan

Pengalaman Kasus Appendisitis di RSCM Tahun 2010


Ridho Ardhi Syaiful, Agi Satria Putranto

Pendahuluan:
Apendisitis Akut adalah inflamasi pada dari vermiform appendiks dan ini merupakan kasus operasi intraabdominal tersering  yang memerlukan tindakan bedah. Pada paper ini penulis ingin mendeskripsikan presentasi klinis, dan tatalaksana kasus apendisitis yang ditangani oleh Divisi Bedah Digestif FKUI / RSCM.

Metode:
Dilakukan review rekam medis 235 pasien ditatalaksana oleh Divisi Bedah Digestif FKUI/RSCM dari tahun 2010.

Hasil:
Dari seluruh rekam medis yang ditelaah terdapat 59 kasus appendisitis dengan peritonitis umum, 20 kasus dengan appendisitis akut dengan abses peritoneal,122 kasus appendisitis akut tidak spesifik,  34 kasus appendisitis dengan appendisitis kronis yang tidak spesifik.

Kesimpulan:
Kasus terbanyak pada appendisitis adalah appendisitis akut tidak spesifik. Diagnosis appendisitis yang dilakukan di RSCM mengacu pada anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang mengarah kepada appendisitis.

Metode FAST dalam Membantu Menentukan Tindakan pada Kasus Trauma Tumpul Abdomen




Hendriek Siahaan , Benny Philippi

Latar Belakang: 
FAST (Focused Assessment with Sonography for Trauma) pertamakali dikemukakan oleh Rozycki dkk. (1996).1,2,5 Pada saat awal ditemukannya FAST, paradigma yang berkembang  yaitu pada saat didapatkan cairan bebas intraperitoneal dengan FAST maka dianggap sudah terjadi trauma yang hebat sehingga membutuhkan tindakan laparotomi eksplorasi kemudian pada tahun 1999 Consensus Conference on the Performance of Ultrasound in Trauma  abdomen, 4. hemodinamik stabil, FAST (-) à1,3,6 membuat panduan pada kasus trauma tumpul abdomen sebagai berikut: 1. Pasien dengan hemodinamik tidak stabil, FAST (+) langsung dilakukan laparotomi, 2. Pasien hemodinamik tidak stabil, FAST (-) harus dicari sumber perdarahan lain, 3. Pasien dengan hemodinamik stabil, FAST (+) dilakukan CT Scan pemeriksaan serial per 6 jam (USG/CT Scan)
Tujuan: 
Mengetahui metode FAST dalam membantu mempercepat keputusan penanganan pasien trauma tumpul abdomen.
Metode: 
Penelitian retrospektif dari data rekam medis pasien trauma tumpul abdomen yang datang ke Instalasi Gawat Darurat RS. Cipto Mangunkusumo Jakarta sejak awal bulan Januari 2004 – 31 Desember 2009.
Hasil: 
Pada periode lima tahun didapatkan 73 pasien trauma tumpul abdomen dimana usia terbanyak yang mengalami trauma tumpul abdomen adalah antara 21 – 30 tahun yaitu sebanyak 31 pasien (42,47%) dengan jenis kelamin terbanyak dialami oleh laki-laki yaitu sebanyak 65 pasien (89,04%). Jumlah pasien dengan kondisi hemodinamik tidak stabil sebanyak 19 pasien (26.03%) dan 54 (73,97%) pasien dengan hemodinamik stabil. Jumlah pasien yang memerlukan tindakan operasi (laparotomi) adalah sebanyak 42 pasien (57,53%) dan 30 pasien (41,10%) hanya dilakukan tindakan konservatif. Jumlah pasien dengan hemodinamik tidak stabil dan dilakukan operasi (laparotomi) sebanyak 17 pasien (23,29%) dan jumlah pasien dengan hemodinamik stabil yang dilakukan operasi adalah sebanyak 25 pasien (34,25%). Berdasarkan perbandingan hasil pemeriksaan FAST dengan temuan intraoperatif didapatkan bahwa pada pasien dengan cairan bebas di Morison’s pouch, splenorenal pouch, parivesika dan parakolika didapatkan temuan intraoperatif jumlah perdarahan lebih dari 1000 cc sebanyak 13 pasien dan terdapat 2 pasien dengan hasil FAST positif  pada salah satu tempat di intraperitoneal tetapi pada temuan intraoperatif didapatkan cairan bebas sebanyak lebih dari 1000 cc. Pada temuan intraoperatif didapatkan ruptur lien sebanyak 12 pasien, rupture hepar sebanyak 8 pasien, perforasi viscus sebanyak 4 pasien, dan  cedera retroperitoneal  sebanyak 9 pasien.
Kesimpulan: 
Adanya cairan bebas yang menempati banyak tempat di intraperitoneal pada metode FAST merupakan sinyal bagi kita untuk mempertimbangkan tindakan laparotomi segera.

Evaluasi Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Residen Bedah di Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan


Rachmat Prayitno, Agi S Putranto

Pelayanan bedah di DTPK (daerah terpencil perbatasan dan kepulauan) di Indonesia tampaknya masih dipandang sebelah mata oleh berbagai kalangan. Ide pengiriman residen bedah senior sesuai kompetensi ke daerah rural merupakan tujuan mulia terutama masyarakat di daerah yang merasakan dekatnya tindakan bedah yang mereka perlukan di lain sisi bermanfaat untuk residen bedah sebagai pengalaman selama dalam pendidikan di daerah urban.

            Masalah yang timbul justru apakah efektifitas dan efisiensi program ini sudah terukur secara sungguh-sungguh dan difahami oleh kalangan akademisi bedah di pusat-pusat pendidikan bedah di daerah urban.

Dalam paper ini, kami ingin memaparkan sebagian dari kegiatan seorang residen bedah di daerah seram bagian timur Maluku yang termasuk dalam daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan selama tiga bulan penugasan khusus dari kementerian kesehatan.

75 kasus bedah mayor telah dilakukan selama tiga bulan dengan spesifikasi semua kasus divisi bedah dari bedah digestive, bedah anak, onkologi, plastik, thorax, vaskuler, orthopedi dan urologi. Lebih dari 60 % kasus digestive, sedangkan persentase lainnya merata pada kasus divisi bedah lainnya. Banyak dari kasus-kasus yang ada adalah kasus dengan penanganan yang terlambat karena faktor geografis dan financial.

Dengan adanya program pengiriman residen bedah senior ke daerah  sebagai “rural surgeon” jelas meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan, dengan memotong jarak dan masalah financial. Dukungan pemerintah daerah pada program ini ikut menjadi factor dalam lancarnya pelayanan bedah yang dilakukan oleh seorang residen bedah.

Konsultasi ke pusat pendidikan yang dilakukan seorang residen bedah ketika bertugas di daerah merupakan nilai tambah bagi yang bersangkutan untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman, namun di lain sisi, supervise secara tidak langsung mengingat di DTPK tidak ada seorang ahli bedah, juga menjadi kelemahan yang harusnya bisa dicarikan formulasinya oleh kalangan pendidik bedah di pusat-pusat pendidikan.

Program pengiriman residen bedah senior sesuai kompetensi yang dimiliki selayaknya dilanjutkan demi mendekatkan pelayanan medik spesialistik bedah untuk masyarakat DTPK. Di samping itu perlu ada formulasi dari pusat pendidikan mengenai kompetensi dan waktu akademik yang pasti mempengaruhi perjalanan proses seorang residen bedah menjadi ahli bedah kelak.

 Kata kunci: Residen Bedah, kompetensi,  rural surgery

Telaah Literatur tentang Kolesistektomi Laparoskopik dengan Bantuan Robot Dibandingkan dengan Kolesistektomi Secara Laparoskopik Konvensional


Dion Ade Putra, Yarman Mazni

Latar Belakang
Sejak kedatangan laparoskopik pada tahun 1987 dan awal perkenalan dari sistem pembedahan robotik dalam dunia kedokteran pada tahun 1991, pembedahan minimal invasif kolesistektomi dapat dilakukan dengan bantuan robot. Tetapi banyak penelitian memperlihatkan kolesistektomi secara robotik hanya memperlihatkan kenyamanan dan keuntungan bagi operator, walaupun hasil keluaran, biaya, dan waktu yang dibutuhkan masih sangat kontroversional dengan laparoskopik secara konvensional.

Metode
Metodologi yang dilakukan dalam pembuatan karya tulis ini adalah telaah literatur (literatur review).

Hasil
Hasil keluaran pada kolesistektomi secara robotik yang terdiri dari lama perawatan, komplikasi, perforasi kandung empedu, laserasi hati, mortalitas, nilai rerata konversi ke kolesistektomi terbuka, dan perdarahan intraoperatif menunjukan hasil yang tidak berbeda dengan kolesistektomi secara laparoskopik konvensional. Hasil waktu persiapan instrumen, waktu diseksi kandung empedu, dan waktu total operasi pada kolesistektomi secara robotik menunjukan hasil yang lebih lama daripada kolesistektomi secara laparoskopik konvensional. Sedangkan untuk biaya, kolesistektomi secara robotik dua kali lipat lebih mahal dari kolesistektomi secara laparoskopik konvensional.

Kesimpulan: 
Penggunaan robot dalam membantu pembedahan kolesistektomi hanya memberikan kenyamanan dan keuntungan bagi operator saja sedangkan untuk hasil keluaran dari pasien tetap sama dengan laparoskopik konvensional. Lama waktu yang dibutuhkan untuk operasi lebih lama dari pada laparoskopik konvensional serta harga yang mencapai 2 kali lipat dari laparoskopik konvensional.

Kata kunci: Robot, Kolesistektomi, Laparoskopik.


Penatalaksanaan Makroglosia pada Anak dengan Limfangioma Lidah




Rylis Maryana, Hilman Ibrahim

Limfangioma merupakan lesi hamartoma jinak pada sistem limfatik. Lesi ini dikelompokkan pada malfomasi limfatik dengan 75% terdapat di kepala dan leher. Tidak ada predileksi jenis kelamin yang jelas. Lesi dari malformasi limfatik ini 50% ditemukan pada waktu lahir, dan 90% didiagnosa di usia sekitar 2 tahun. Dari malformasi di mulut, 40-50% terjadi di lidah. Limfangioma diklasifikasikan menjadi : Limfangioma simpleks (capillary  lymphangioma), Limfangioma cavernosa, dan Limfangioma kistik (kistik higroma). Penatalaksanaan terpilih dengan operasi eksisi komplet. Rekurensi lokal post eksisi umum terjadi. 

Dilaporkan satu kasus, anak perempuan, “J”, 3 tahun, dengan diagnosa awal macroglossia sejak 1 bulan sebelum datang ke RS yang diawali dengan nyeri dan demam. Riwayat trauma lidah sebelumnya tidak ada, diketahui dari riwayat sejak lahir bahwa lidah pasien lebih besar dari anak lain pada umumnya. Lidah yang terjulur besar dan tebal dengan ukuran yang keluar dari mulut 7x5x2cm. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Hasil PA biopsi lidah didiagnosa sebagai Limfangioma, tidak ada tanda-tanda keganasan. Dilakukan CT Angio didapatkan hasil massa hipervaskular yang mendapat feeding dari A.Lingualis dan A.Facialis kanan dan kiri. Pada Operasi yang dilakukan dengan Key Hole Prosedur dilakukan eksisi dan didapatkan jaringan kistik multipel dengan cairan kecoklatan.


Kata kunci: Macroglossia, Limfangioma, Malformasi Limfatik, Eksisi.


Jumat, 01 Juli 2011

Evaluasi Penatalaksanaan Tumor Filoides di RSCM Periode 2006-2010





I Gusti N Gunawan W, Erwin Daniel Julian

Latar Belakang: 
Tumor filoides adalah salah satu bentuk neoplasma yang relatif jarang pada payudara, prevalensinya sekitar 1% dari seluruh neoplasma pada payudara dan 2-3% dari seluruh tumor fibroepitelial payudara. Tingkat rekurensi dan mortalitas pada tumor filoides cukup tinggi dan membutuhkan batas sayatan yang bebas untuk kontrol lokal yang panjang. Belum banyak studi yang membahas mengenai ekstensi pembedahan yang baku dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil penatalaksanaannya, sedangkan hasil terapi sering tidak dapat diprediksi.

Metoda: 
Dilakukan pengumpulan data pasien dengan diagnosis tumor filoides secara retrospektif dari rekam medis dari periode 2006-2010, didapatkan jumlah pasien dengan tumor filoides yang berobat sebanyak 63 orang. Dari jumlah tersebut, rekam medis yang didapatkan sebanyak 46, dimana pada pengamatan selanjutnya terdapat 10 pasien yang loss to follow up.  Dilakukan analisis dengan uji Chi square dan Fisher untuk menilai hubungan antara ukuran tumor, jenis histopatologi, batas sayatan dengan terjadinya rekurensi lokal dan mortalitas.

Hasil: 
Terdapat 46 kasus tumor filoides, terdiri dari 26 jenis ganas, 8 jenis borderline, dan 12 jenis jinak. Rerata umur dari pasien 42,8 tahun. (23-54 tahun). Ukuran tumor 17 cm (4-32 cm). Tingkat rekurensi lokal sebesar 11% dan tingkat mortalitas 13%. Pada analisis bivariat didapatkan hubungan bermakna antara batas sayatan dengan rekurensi lokal (p 0,049).

Kesimpulan: 
Batas sayatan dapat merupakan faktor prognostik dalam terjadinya rekurensi lokal pada pasien dengan tumor filoides. Tindakan wide eksisi dengan batas sayatan bebas tumor cukup efektif dalam mengurangi risiko terjadinya rekurensi.

Kata kunci: filoides, batas sayatan, rekurensi lokal

Patching Repair dengan Dacron dari Sakular Aneurisma Aorta Abdominal pada Wanita Usia 33 Tahun


I Gusti N Gunawan W, Hilman Ibrahim

Wanita usia 33 tahun dengan benjolan pulsatil pada abdomen sisi kiri. hasil USG abdomen menunjukkan terdapat aneurisma aorta abdominal sakular infrarenal dengan diameter 9,5 cm. CT Angiografi mengkonfirmasi terdapat multipel aneurisma pada aorta torakalis dan aorta abdominalis. Aneurisma aorta abdominalis terletak pada level infrarenal setinggi vertebra lumbal II ekstensi hingga bifurkatio aorta, berbentuk sakular dengan ukuran 8,31x11,73x9,67 cm. Pasen menjalani operasi repair aneurisma abdominalis melalui teknik transabdominal open repair. Dinding posterior aorta masih sehat dan dinding anterior ditutup dengan graft Dacron. Hasil pemeriksaan mikroskopik dari dinding aneurisma tidak ditemukan tanda infeksi yang nyata dan hanya tanda akut ringan. Kultur dari thrombus tidak ditemukan kuman. Tidak ditemukan komplikasi pasca operasi pada follow up hingga saat ini.

Kata kunci: Aneurisma aorta abdominal, Sakular, Usia muda, Dacron patching

Laporan Kasus: Osteosarkoma Regio Parietal Dekstra




Eko Ristiyanto, Erwin Daniel

 
Latar belakang
Osteosarkoma pada daerah kepala dan leher sangat jarang terjadi, insidensinya kurang dari 10 % dari seluruh kasus osteosarkoma, osteosarkoma terbanyak pada ekstremitas. Osteosarkoma regio kepala dan leher mempunyai perilaku klinis yang berbeda dengan osteosarkoma pada ekstremitas. Dibandingkan dengan osteosarkoma tempat lain, osteosarkoma pada kepala dan leher mempunyai perilaku yang sedikit metastasis jauh, tetapi mortalitas tinggi karena sulitnya mengontrol kerusakan lokal akibat keganasan ini.

Metode: 
Pada tulisan ini melaporkan kasus seorang laki-laki usia 31 tahun dengan osteosarkoma pada regio parietal dekstra, yang sebelumnya pasien ini juga dengan osteosarkoma pada regio maksila dekstra yang telah dilakukan wide eksisi karena margin tidak bebas tumor dilakukan radiasi 31 kali. 2 bulan setelah operasi muncul benjolan lagi pada region parietal dekstra, pada kasus residif ini dilakukan wide eksisi dan tutup defek dengan rotational flap pada defek regio parietal sinistra.

Hasil
Wide eksisi yang dilakukan dengan margin bebas tumor baik dari hasil potong beku intra operatif dan hasil histopatologi. Flap pada defek parietal dekatra vital, tidak ada infeksi, kemoterapi adjuvant masih menjadi perdebatan apakah diberikan pada pasien ini mengingat hasil histopatologi osteosarkoma subtipe kondroblastik (grading histologis: low grade).

Kesimpulan
Pembedahan dengan upaya margin yang bebas tumor merupakan modalitas utama dalam manajemen kuratif osteosarkoma regio kepala dan leher. Terapi adjuvan lain yang di anjurkan adalah radioterapi apabila margin tidak bebas tumor atau sempit dan kemoterapi.

Keyword: osteosarkoma, wide eksisi, rotational flap, terapi adjuvan  

Profil Pasien IGD RSCM



Budhi Arifin Noor

Tujuan penelitian
Kami ingin mengetahui profil pasien IGD RSCM yang mencakup sebaran usia, jenis kelamin, alamat tempat tinggal dan asal pasien. 

Metode
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder berupa data registrasi dan rekam medik pasien bedah IGD RSCM. Sampel diperoleh dengan cara simple random sampling dengan sebelumnya melakukan penghitungan besar sampel untuk penelitian deskriptif kategorik. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan program SPSS 17.0.  

Hasil
Terdapat pasien laki-laki sebanyak 63,2% dan pasien perempuan sebanyak 36,8% dengan rata-rata usia yaitu 32,09 tahun. Pasien usia dewasa (25-65 tahun) sebanyak 54,4%, usia dewasa muda (19-25 tahun) 21,4%, pasien anak (0-18 tahun) 19,2% dan terakhir pasien lanjut usia (>65 tahun) 4,9%. Alamat tempat tinggal pasien tercatat di wilayah Jabodetabek sebesar 78,6%. Pasien yang tinggal di luar daerah Jabodetabek 21,4%. Terdapat pasien yang berasal dari rujukan rumah sakit lain sebanyak 23,6% dan pasien yang bukan pasien rujukan 76,4%.  

Kesimpulan
Pasien bedah IGD RSCM didominasi oleh pasien laki-laki, pasien dewasa dan pasien yang berasal dari wilayah Jabodetabek. Adapun asal pasien IGD RSCM masih didominasi oleh pasien yang bukan rujukan dari RS lain atau dengan kata lain pasien yang datang langsung ke IGD RSCM.



Pengalaman Satu Tahun Operasi Laparoskopik Retroperitoneal di RS PGI Cikini


Liberty Tua Panahatan, David Manuputty, Eben Ezer Siahaan

Pendahuluan:  
Laparoskopik retroperitoneal adalah prosedur alternatif untuk berbagai kelainan di retroperitoneal. Prosedur ini tidak sulit untuk dipelajari maupun dilakukan, namun dalam prosedur pelaksanaannya dituntut kehati-hatian yang lebih karena adanya pembuluh darah besar, colon desenden pada medial sisi kiri serta duodenum di medial sisi kanan lapangan operasi. Berikut ini kami laporkan pengalaman operasi laparoskopik retroperitoneal di RS PGI Cikini selama periode Mei 2010 – April 2011.

Materi dan metode: 
Dilakukan penelaahan ulang dari rekam medis periode Mei 2010 sampai April 2011. Selama periode tersebut terdapat 9 operasi laparoskopik retroperitoneal (5 pasien laku-laki, 4 perempuan).

Hasil: 
77,8% kasus laparoskopi retroperitoneal adalah kista ginjal, sisanya adalah adenoma adrenal. Rata-rata lama rawat 8 hari (kisaran 2-16 hari), lama dari operasi sampai pasien pulang 5,12 hari (2-10 hari), lama operasi 156,11 menit (75-435 menit), jumlah perdarahan 69,44 cc (15-250 cc), lama sampai intake oral 41,27 jam (4-300 jam). Pengunaan analgetik post operatif terbanyak adalah Torasik dengan rata-rata pengunaan 5 ampul (1-9), Pethidin drip hanya di gunakan pada 1 Kasus (kasus konversi ke operasi terbuka) pada 24 jam pertama. Konversi ke operasi terbuka dilakukan pada 2 kasus (22,2%).

Kesimpulan: 
Proses pembelajaran dan pelatihan laparoskopi retroperitoneal harus dilakukan secara gradual karena teknik ini sangat kompleks dan berbahaya karena adanya pembuluh darah besar, kolon desenden pada medial sisi kiri, duodenum di medial sisi kanan dan ruang yang tidak terlalu besar. RS PGI Cikini sudah mulai melakukan Laparoskopi retroperitoneal ini dengan hasil yang cukup baik. Diharapkan penggunaan teknik ini akan semakin berkembang di masa depan dengan meningkatkan jenis tindakan, jumlah tindakan dan parameter perioperatif lainnya.

Prosedur Endoscopic Thyroidectomy Breast-Axillary Approach dalam Penatalaksanaan Struma Nodosa


Rizky Amaliah, Diani Kartini, Erwin Danil Yulian

Latar Belakang:
Perkembangan teknologi telah berkembang pesat dalam ilmu bedah terutama penggunaan endoskopi untuk mengembangkan operasi dalam menghasilkan jaringan parut yang minimal. Tiroidektomi endoskopi merupakan teknik bedah dan mulai berkembang sejak tahun 1997. Teknik ini mempunyai beberapa pendekatan, yaitu melalui servikal dan ekstraservikal baik melalui dinding dada, mammae dan aksila. Sampai saat ini belum ada teknik yang dapat diterima secara universal. Studi deskriptif ini bertujuan untuk melaporkan pengalaman pertama kami dalam tatalaksana struma nodosa dengan tiroidektomi endoskopi melalui pendekatan mammae-aksila dengan teknik Luong.

Metode:
Enam belas pasien dengan struma nodosa telah dilakukan tiroidektomi endoskopi melalui pendekatan mammae-aksila dengan teknik Luong pada periode Agustus 2010 sampai Mei 2011 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Diameter terbesar nodul, durasi operasi, lama perawatan pasca operasi, nyeri pasca operasi, hasil kosmetik serta komplikasi diobservasi secara retrospektif.

Hasil:
Semua pasien adalah wanita dengan median usia 37,5 tahun. Penyakit tiroid yang dilakukan teknik ini terdiri dari 7 kasus karsinoma dan sisanya adalah jinak. Diameter terbesar yang dapat diambil adalah 60 mm dengan median 40 mm. Dua pasien dilakukan konversi menjadi tiroidektomi dengan teknik konvensional karena diseksi yang sulit serta perdarahan yang tidak dapat dikontrol. Median durasi operasi adalah 225 menit dengan rata-rata lama perawatan selama 5 hari pasca operasi. Nilai VAS rata-rata adalah 4. Ditemukan 3 kasus emfisema subkutis, 4 kasus paralisis pita suara unilateral temporer serta 3 kasus hipokalsemia temporer. Namun secara kosmetik, semua pasien merasa puas dengan hasil luka operasi.

Kesimpulan:
Prosedur tiroidektomi endoskopi pendekatan mamme-aksila aman dan prosedur yang efektif serta mempunyai keuntungan kosmetik yang sangat baik karena tidak memperlihatkan jaringan parut pada daerah servikal. Tiroidektomi endoskopi teknik ini mempunyai kelemahan dalam hal durasi operasi yang lebih lama dibandingkan teknik konvensional, namun hal ini dapat diatasi dengan keahlian dan pengalaman dari operator.

Kata kunci: tiroidektomi, endoskopi, struma nodosa, breast-axillary approach