Selamat Datang!

Blog Bedah Umum FKUI merupakan sarana berbagi informasi mengenai tatalaksana kasus bedah, karya tulis para residen, informasi akademis, wacana dunia bedah hingga kegiatan-kegiatan kami. Blog ini dibuat pada tahun 2009 dan dikelola oleh residen Ilmu Bedah FKUI. Diharapkan blog ini bisa menjadi sarana berbagi kabar, informasi, serta berdiskusi antar konsulen, trainee, dan residen bedah baik dari FKUI maupun fakultas kedokteran lain di Indonesia. Semoga kehadiran blog ini dapat memperkaya wawasan dan keilmuan kita sebagai Dokter Spesialis Bedah maupun calon Dokter Spesialis Bedah masa depan. Semoga bermanfaat!

Tampilkan postingan dengan label Interviews. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Interviews. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juli 2012

Prof. Dr.dr.H.Med Rasjid Soeparwata SpB,SpB(K)V,SpBTKV (K) Antara Bedah Vaskuler dan Pengalaman


Prof. DR. Dr.Med H. Rasjid Soeparwata SpB, SpB(K)V, SpBTKV(K)
Antara Bedah Vaskuler dan Pengalaman

Ali Reza, Indah Jamtani, Purnama Satria Bakti, Ruly Rahadianto, Bob Andinata
Tim wawancara blog General Surgery FK UI
April 2012
Jakarta, Indonesia

Prof. DR.Dr.Med. H. Rasjid Soeparwata SpB, SpB(K)V, SpBTKV(K) atau lebih dikenal dengan Prof Soeparwata merupakan staff medis di divisi Bedah Vaskuler FKUI/RSCM. Beliau yang dikenal santun, ramah dan bersahaja, lahir di Yogyakarta, dan merupakan anak pertama dari delapan bersaudara. Menghabiskan masa kecil hingga sekolah menengah di Yogyakarta, lalu sempat mengawali pendidikan kedokteran di FK UII. Dengan rekomendasi dari Rektor UII, pada waktu itu dan besarnya keinginan menjadi dokter akhirnya  beliau melanjutkan pendidikan ke Jerman untuk mewujudkan cita-cita, dengan diikuti beberapa orang saudaranya.
Berikut petikan wawancara tim blog General Surgery FK UI dengan beliau.
           
Prof, bisa diceritakan bagaimana pengalaman pendidikan di jerman?
Dijerman, saya diterima pertama kali di Guthenberg University dikota Mainz am Rhein , setahun kemudian pindah ke Justus Liebig Universitet Giessen, tiga tahun kemudian menyelesaikan pendidikan dokter. Satu tahun setelah menyelesaikan Medical Asisstenze, saya mendapatkan kesempatan pendidikan spesialis bedah umum di J.W.Goethe University selama enam tahun, sebelum akhirnya kembali Justus Liebig Universitaet untuk mendapatkan pendidikan bedah vaskular selama empat tahun dan menjalani program Doktors der Medizin dengan tema Auswirkungen unterschiedlicher Aminosauren in der parenteralen Ernahrung auf Proteinstoffwechsel and Katabolie nach herzchirurgischen Eingriffen . Setelah mendapatkan brevet ahli bedah vascular, lalu saya mendapatkan kesempatan memperdalam ilmu bedah jantung dan toraks di Universitet Giessen dan Wuerzburg di Bavaria selama empat tahun, kesemuanya itu ditempuh dalam waktu kurang lebih 18 tahun. Kemudian tahun 1989 saya mendapatkan posisi dalam rangka mengembangkan poliklinik toraks kardiovaskular di Westfaelischen Wilhelm Universitaet dan diberi kesempatan untuk melakukan penelitian Einfluss der Extrakorporalen Zirkulation auf das Mediatorensystem dan mendapatkan biaya riset sebesar 500.000 DM pada waktu itu. Dan menggapai Venia Legendi pada tahun 1996 sebagai penghargaan tertinggi akademik dibidang toraks kardiovaskular. Setelah menjadi ahli bedah jantung dan pembuluh darah, saya kemudian menjadi staff medis di sebuah rumah sakit di Muenster. Selama menjadi profesor, saya mempromotori 12 orang calon profesor, dan kebanyakan diantaranya orang jerman.


*Wawancara tim blog bedah FK UI dengan Prof Soeparwata di RSCM Kencana lantai 2 Cluster Cardiovascular, April 2012


Prof, pengalaman apa yang paling berkesan selama Prof menjalani profesi sebagai dokter?
Operasi tranplantasi jantung adalah operasi yang didambakan setiap ahli bedah jantung. Di jerman, operasi tranplantsi jantung sudah menjadi prosedur yang rutin pada kasus jantung dengan indikasi  End Stage Heart Failure. Bukan sulit untuk menemukan calon pasien transplantasi jantung. Namun mendapatkan orang pendonor jantung merupakan kendala untuk melakasanakan operasi transplantasi jantung. Saya pernah mengalami pengalaman yang sangat luar biasa.  Pengalaman yang juga sangat langka ditemukan di jerman pada waktu itu. Ini terjadi sewaktu saya sedang jaga on call dan mewakili direktur di Rumah sakit kota Muenster. Pada minggu itu, ada tiga orang yang mengalami kecelakaan sepeda motor. Ketiganya meninggal. Karena kebijakan di negara jerman yang menyediakan kartu bagi orang-orang yang bersedia mendonorkan organnya apabila meninggal, akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk mengerjakan tiga operasi transplantasi sekaligus dalam satu minggu. Hal ini saya anggap sesuatu hal yang luar biasa. Saya sangat bersyukur dan yakin bahwa Allah mendengar doa saya. Hingga saat ini, saya telah melakukan 14 kali operasi transplantasi jantung.

Lantas, bagaimana Prof bisa bergabung dengan FKUI?
Dari tahun 2000, saya telah diangkat sebagai Dosen Luar Biasa oleh Dekan FK UI. Pada waktu itu Prof. Dr. H. Ali Sulaiman, SpPD, KGEH menjabat sebagai dekan FK UI. Sewaktu saya diangkat menjadi dosen luar biasa, Dr. Dedy Pratama Sp.B yang merupakan kepala divisi bedah vaskuler saat ini, sedang mengambil fellowship dibidang bedah vaskuler di Jerman. Saya juga diangkat sebagai “ Visiting Profesor”  dibeberapa universitas di Indonesia, antara lain UGM dengan dekannya pada waktu itu, Prof. DR. Dr. Hardyanto Soebono, SpKK, dan juga di UMY dengan dekannya pada waktu itu Dr. Erwin Santosa, SpA, M.Kes. Pada akhir tahun 2008, Dekan FKUI DR. Dr. Ratna Sitompul, SpM(K), berkunjung langsung ke Muenster untuk bersilaturahim dengan Dekan Westfaelischen Wilhelm Universitaet  Prof DR Wilhelm Schmitz , sekaligus untuk menjalin kerjasama antara kedua pihak yaitu UI dan Universitas tempat saya bekerja. Gayung pun bersambut, saya yang memang sudah lama ingin kembali mengabdi di tanah air, segera menerima tawaran  tersebut dan akhirnya kembali ke tanah air dan ditempatkan di Bedah Vaskuler FKUI/RSCM mulai dari tahun 2009 sebagai Profesor akademik.

*Prof dengan antusias membagikan pengalaman menarik serta luar biasa yang ia miliki kepada tim blog bedah FK UI
           
Prof, mengenai prinsip hidup Prof?
Menjadi orang yang bermanfaat bagi yang lain. Saya  selalu ingin menolong orang yang kurang beruntung. Ilmu adalah alat yang digunakan untuk membantu orang lain, semaksimal mungkin.  Menguasai ilmu juga berarti mengoptimalkan akal. Kita tidak boleh berhenti apabila sudah mencapai sesuatu, tetapi kita harus mulai lagi dengan konsep yang baru. Kita juga tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Maka sudah semestinya kita berbuat yang terbaik dalam hidup kita untuk diri kita, dan untuk sesama.

Terakhir, Apa pesan Prof untuk residen bedah FK UI?
Saya berpesan agar selalunya kita menanamkan 4C kepada para residen bedah khususnya dan pada seluruh dokter umumnya. Bahwa kita harus memiliki “Concept” tentang siapa kita, apa makna profesi kita, kemana tujuan hidup kita. Setelah itu kita pun memiliki “ Commitment” atas konsep yang telah ada dalam diri kita. “ Collaboration” adalah langkah kongkrit komitmen kita untuk saling bantu membantu dengan orang lain. Dan pada akhirnya kita akan “ Competent” pada suatu bidang ilmu tertentu. Kita mesti menjadi ahli dibidang ilmu tersebut, sehingga mengharuskan mengetahui hingga akar-akar dari ilmu tersebut. Tidak lupa saya berpesan agar  para dokter selalu mengutamakan perihal keselamatan pasien sebagai prinsip kita yang nomor satu dalam menjalani profesi dokter.

Terima kasih banyak atas pengalaman Prof yang telah dibagi kepada tim blog bedah FK UI. Kami juga mendoakan kesehatan, keberkahan dan kebajikan senantiasa mengiringi Prof. Bagi pembaca yang ingin langsung berkonsultasi dengan Prof Soeparwata, beliau dapat ditemui di RSCM Kencana, Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Selatan, dan Rumah Sakit Harapan Kita Grogol. ( AR,IJ,PSB,RR)


Dari kiri ke kanan : dr. Indah Jamtani, dr. Ali Reza, Prof Soeparwata, dr. Ruly R, dr.P.Satria.B

Rabu, 15 Februari 2012

Minimally Invasive Surgery di Bidang Hepatobilier; Pengalaman dr. Maria Mayasari, SpB, K-BD

Pembedahan minimally invasive semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi di bidang bedah dan juga tuntutan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Keuntungan dilakukannya pendekatan ini antara lain berkurangnya nyeri pasca operasi dan berkurangnya lama rawat. Di masa datang, penggunaan pendekatan ini untuk berbagai tindakan di bidang hepatobilier dan pankreas akan semakin luas, seiring dengan kemajuan instrumen dan teknologi seperti penggunaan robotic dan single port. Adalah dr. Maria Mayasari, SpB, K-BD, yang lebih akrab disapa dr. Mamay, konsultan bedah digestif wanita pertama di FKUI/RSCM yang berkesempatan mendalami pembedahan minimally invasive di bidang hepatobilier selama satu tahun di National University Hospital, Singapura. Kepada tim Blog Bedah Umum FKUI beliau menceritakan pengalamannya.

Gambar 1. dr. Mamay saat menjalani wawancara

Dr. Mamay adalah seorang ahli bedah digestif sekaligus Ibu dari tiga orang anak. Beliau menjalani pendidikan kedokteran di FKUI pada tahun 1993 hingga 1999, lalu melanjutkan pendidikan spesialis bedah umum pada tahun 2000 hingga 2006. Setelah lulus sebagai spesialis bedah, beliau menjalani masa PTT di RSUD Kalabahi, Alor, NTT selama enam bulan.


Ketika menjalani PPDS 2, awalnya dr. Mamay menekuni bidang kolorektal dengan dr. Ibrahim Basir, SpB, K-BD sebagai mentornya. Perjalanan dr. Mamay di bidang hepatobilier diawali dengan membuat tulisan di bawah bimbingan dr. Toar J M Lalisang, SpB, K-BD yang berhasil dibawakan di kongres internasional di Bangkok pada tahun 2009. Kemudian kesempatan datang dari Prof. dr. L A Lesmana, SpPD, KGEH yang menawarkan kerjasama di bidang hepatobilier. Beliau memiliki kenalan yang menawarkan kesempatan fellowship ke Singapura dan Belanda. Setelah melalui proses yang cukup panjang dan rumit, akhirnya dr. Mamay berangkat untuk mengikuti fellowship selama satu tahun di National University Hospital di Singapura, di bawah bimbingan Dr. Stephen Chang (saat ini sudah Profesor), pionir pembedahan minimally invasive hepatobilier yang pertama kali melakukan teknik single port di Singapura.
Gambar 2. Dr. Mamay menerima piagam Clinical Fellowship dari mentornya di Singapura, Dr. Stephen Chang

Kegiatan pokok dr. Mamay selama di Singapura yaitu melakukan penelitian mengenai alat simulasi laparoskopi, penelitian yang membandingkan antara single port laparoscopic cholecystectomy dengan konvensional, dan beberapa penelitian lainnya. Objektif yang diberikan oleh Dr. Chang yaitu selama masa fellowship dr. Mamay harus mempublikasikan dua penelitian. Selain itu, dr. Mamay juga diminta membantu operasi pasien pribadi Dr. Chang di luar jam kerja dan membantu pendidikan residen. Dokter Mamay sendiri memiliki target untuk dapat menguasai reseksi hepar. Dokter Mamay juga diberi kepercayaan untuk melakukan operasi laparoskopik kolesistektomi serta berkesempatan menjadi asisten pembedahan dengan robotic yang pada saat itu baru pertama kali dilakukan di Singapura. Di akhir masa fellowship, seluruh objektif telah dapat dipenuhi.

Gambar 3. Ilustrasi pembedahan laparoskopik (tampak luar)
Gambar 4. Laparoskopik kolesistektomi

Terdapat beberapa tantangan dalam melakukan operasi dengan robotic, salah satunya yaitu pendekatan terhadap pasien. Diakui Dr. Chang bahwa pasien yang pertama kali dioperasi dengan menggunakan teknik robotic telah diberikan penjelasan selama satu tahun hingga akhirnya bersedia. Sebelum melakukan operasi pada pasien, Dr. Chang melakukan latihan dengan menggunakan hewan percobaan. Kemudian di tengah berjalannya operasi diputuskan untuk konversi ke open. Pembedahan dengan teknik robotic yang kedua dapat dilalui dengan sukses.

Gambar 5. Ilustrasi tindakan pembedahan minimally invasive

Pembedahan minimally invasive pada bidang hepatobilier dan pankreas dimulai dengan penggunaan laparoscopy cholecystectomy untuk pertama kalinya oleh Erich Muhe pada tahun 1985. Sejak saat itu, penggunaan laparoskopi berkembang dengan pesat hingga meluas ke hampir seluruh bidang pembedahan. Di lain pihak, penggunaan laparoskopi di bidang hepatobilier tidak berkembang sepesat bidang lainnya seperti di bidang orthopaedi dan kolorektal.

Beberapa tindakan pembedahan bidang hepatobilier yang pernah dilakukan menggunakan pendekatan laparoskopik selain laparoskopi kolesistektomi antara lain eksplorasi ductus choledochus, penestrasi kista hepar, drainase abses hepar, splenektomi, pankreatektomi distal, cystogastrostomy/cystoenterostomy untuk kista pankreas, dan pankreatikoduodenektomi. Contoh tindakan pembedahan minimally invasive hepatobilier dapat dilihat melalui tautan video ini.

Gambar 6. Proses wawancara tim Blog Bedah Umum FKUI dengan Dr. Mamay

Bagaimana dengan kemampulaksanaan teknik pembedahan minimally invasive ini di Indonesia? Berkembangnya teknologi dalam pembedahan hepatobilier ini juga berdampak pada biaya yang harus ditanggung pasien. Diakui dr. Mamay bahwa biayanya memang cukup tinggi, namun masih tetap lebih tinggi apabila melakukan pembedahan ini di Singapura, karena selain biaya transport dan akomodasi pasien beserta keluarga, biaya perawatan pasien juga pasti lebih tinggi. Hal ini dikarenakan kebijakan pemerintah yang mengharuskan pasien asing dirawat minimal di kelas 1. Saat menjalani fellowship, dr. Mamay juga memiliki misi khusus yaitu mengkondisikan agar perbedaan fasilitas di Singapura dengan di Indonesia tidak menjadi penghambat sehingga teknik pembedahan ini tetap dapat dilakukan.

Terakhir, dr. Mamay berpesan kepada para residen bedah bahwa kesempatan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, karena kesempatan mungkin hanya akan datang satu kali. Beliau juga berpesan bahwa Blog Bedah Umum FKUI memang sudah saatnya untuk digiatkan, namun dalam menyajikan kasus harus benar-benar memperhatikan hak privasi pasien, jangan sampai dilanggar. Baiklah, semoga pengalaman dr. Mamay dapat menjadi inspirasi bagi kami untuk menjalani masa pendidikan dengan bersungguh-sungguh. Sukses selalu untuk dr. Mamay! (WA, MPR, DF, NSB, ONH, ML, ASF, CS)

Sabtu, 19 November 2011

Wawancara dengan KPS Ilmu Bedah FKUI Periode Mei 2003 – Mei 2011 (dr. Amir Thajeb, Sp.B, SpBA)


Wawancara dengan KPS Ilmu Bedah FKUI Periode Mei 2003 – Mei 2011
(dr. Amir Thajeb, Sp.B, SpBA)

Departemen Ilmu Bedah periode Mei 2003 sampai dengan Mei 2011 dikepalai oleh seorang dokter spesialis bedah anak. Sosok mungil yang ramah dan energik ini bernama Amir Thajeb. Terjun ke dunia kedokteran sejak tahun 1965 saat sedang maraknya pemberontakan G30S/PKI di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan menjadi dokter umum 6 tahun kemudian (1971 – alias ALTUS). Semenjak kuliah, beliau sudah aktif di bidang koordinator pendidikan (KODIK) dan direkrut sebagai staf di jajaran departemen Ilmu Bedah FKUI/RSCM sejak tahun 1973. Beliau sangat tertarik untuk memperbaiki sistem pendidikan di tempatnya bekerja.
            Suami dari seorang ibu rumah tangga dan ayah dari 2 orang putri dan 1 orang putra, menyelesaikan pendidikan spesialis bedahnya di fakultas yang sama pada tahun 1978 dan kemudian menjadi spesialis bedah anak pada tahun 1981 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sempat mengenyam pendidikan di Paris. Berbekal pengalamannya disanalah, beliau bertekad untuk menjadikan almamaternya tempat pendidikan dan pelayanan RS yang lebih baik.
            Perjalanan kariernya di bagian struktural di FKUI/RSCM bukan tanpa perjuangan. Berikut ini adalah sedikit wawancara kami dengan beliau di ruang kerjanya di Kantor Divisi Bedah Anak.

Siang dok, terima kasih sebelumnya atas kesempatan yang diberikan. Kami dari tim blog generalsurgeryfkui, hendak melakukan sedikit wacwancara tentang sepak terjang dokter saat menjabat sebagai KPS Ilmu Bedah FKUI/RSCM.

Apa pengalaman dokter yang paling berkesan saat jadi PPDS ?
Pengalaman yang berkesan adalah ketika mendapat giliran jaga selang sehari (jaga seperti papan catur). Dimana selain kita dituntut untuk tetang siap dan sigap, tetap harus melayani pasien dan tetap belajar, padalah kita saat itu sangat kurang istirahat. Dulu PPDS masih sedikit sehingga satu orang giliran jaganya cukup banyak.
Dulu sistemnya berdasarkan kelas I, II, dan III yang jaga di rumah sakit, sedangkan kelas IV (chief) jaga di rumah (sistem on call).

Pengalaman berkesan saat sudah menjadi dokter spesialis ?
Saat mengikuti pendidikan lanjutan bedah anak juga di Paris (tahun 1970an). Melihat begitu banyak perbedaan dengan yang ada di sini. Di sana semua pemeriksaan dan terapi bisa dilaksanakan sesuai dengan apa yang kita dapat di text book. Tidak seperti disini, banyak yang dimodifikasi. Banyak hal yang dipikirkan untuk meminta pemeriksaan pada pasien, salah satunya dalam hal bidang ekonomi.

Bagaimana awal terlibatnya dokter di bidang struktural ?
Yaitu saat kuliah, saya terlibat kegiatan di bagian KODIK, yang kemudian apa yang saya tekuni menjadi cikal bakal panduan modul bagi PPDS sekarang, walaupun untuk panduan modul yang ada saat ini sudah mengalami beberapa perubahan. Setelah lulus spesialis, saya langsung ditarik jadi bagian staf, dan dari situlah saya mendalami bidang pendidikan dan kurikulum PPDS. Dengan modul yang ada, maka outcome PPDS darimana pun akan sama dalam hal menindaki kasus tertentu dimanapun PPDS tersebut di tempatkan.

Mengapa tertarik menjadi KPS Ilmu Bedah ?
Setelah melihat keadaan di luar negeri, ingin juga melihat bagian bedah kita secara khusus dan rumah sakit kita secara umum menjadi yang lebih baik. Walaupun selama perjalanannya banyak menemukan hambatan terutama di bidang administrasi. Kadang apa yang kita ajukan untuk kebaikan departemen, kadang tidak ditanggapi oleh pihak atasan.




Apa visi dan misi dokter saat menjadi KPS ?
Saya sebenarnya hanya meneruskan apa yang telah dijalankan oleh pendahulu saya sebelumnya. Mereka orang-orang yang hebat dan rencananya bagus maka apa yang bisa saya tingkatkan, ya ditingkatkan dengan melanjutkan program sebelumnya.Menjalankan pendidikan lebih teratur dengan sistem pencatatan yang lebih baik. (Usaha untuk mencapai visi ini sudah dirintis sejak beliau menjabat sebagai Kodik S1, berlanjut saat menjadi Sekretaris Program Studi-SPS dan akhirnya menjadi Kepala Program Studi-KPS). Hal tersebut dilakukan dengan mulai menerapkan sistem log book yang isinya diadopsi dari modul-modul dalam KIPDI.

Suka duka menjadi KPS Ilmu Bedah ?
Cape hati dan fisik mengurusi studi PPDS sebagai persyaratan kelulusan yang kadang-kadang justru PPDS-nya sendiri tidak peduli dengan hal ini. Misalnya sudah 2 tahun, penelitiannya tidakkunjung rampung.

Apa program yang belum tercapai saat menjadi KPS ?
Menjalin kerja sama dengan rumah sakit jejaring untuk dijadikan rumah sakit pendidikan juga sehingga kita bisa menitipkan PPDS mulai dari kelas 1.
Mengingat jumlah peserta PPDS makin banyak dan jumlah pasien di RSCM makin berkurang, dikhawatirkan lulusan PPDS Ilmu Bedah FKUI kurang terasah keterampilannya. Rencananya akan ada 4 rumah sakit mitra, yang kalau bisa akan dijadikan rumah sakit pendidikan (RSU Tangerang, RSU Karawang, RSGS, dan RS Fatmawati).

Bagaimana tanggapan Dokter sehubungan adanya anggapan bahwa peserta PPDS Ilmu Bedah FKUI tidak mempunyai bapak?
Hal itu akan dibenahi. Jika melihat peserta PPDS sub divisi atau departemen lain, misalnya punya ruangan sendiri untuk sekedar berisitirahat, beliau sudah meminta kepada Kepala Departemen Ilmu Bedah FKUI agar peserta PPDS Ilmu Bedah juga diberikan ruangan khusus, yang bisa dipakai untuk istirahat, mengetik, membaca.
Beliau juga mengusulkan agar peserta PPDS yang dinilai berprestasi dapat dikirim ke luar negeri agar bisa memperoleh wawasan baru.

Apa harapan dokter dengan Kadep yang baru ini ?
Kadep baru (dr.Fathema,SpBTKV) adalah orang yang tegas. Saya berharap baik dengan hadirnya beliau sebagai Kadep. Bidang pendidikan membutuhkan orang-orang seperti beliau.

Pesan-pesan untuk peserta PPDS Ilmu Bedah ?
Beliau berpesan kepada peserta PPDS agar jangan membuang-buang waktu selama pendidikan. Saat pertama mengetahui bahwa lama pendidikan PPDS Ilmu Bedah adalah sekitar 5 tahun, terkesan itu adalah waktu yang panjang. Namun ternyata setelah dijalani hari demi hari ditambah dengan banyaknya modul yang harus dicapai, waktu 5 tahun itu ternyata singkat. Sebagai ilustrasi, pada setiap kelas, seorang PPDS harus melewati rotasi pada 8 divisi, masing-masing selama 2 bulan. Dalam 1 rotasi, ada 5-6 modul yang harus dicapai. Nah, apakah 5-6 modul itu betul-betul dapat dikuasai dalam waktu sedemikian singkat, hal itu kembali pada masing-masing.
Batas maksimal lama pendidikan adalah n+1/2 n. Begitu melampaui batas tersebut, nama peserta PPDS akan secara otomatis terhapus dari database universitas.

Pesan beliau yang lain adalah jalani pendidikan dengan jujur. Lebih baik dianggap “bodoh” daripada dicap “tukang ngibul”, karena orang bodoh masih bisa diajarkan dan masih bisa berlatih supaya jadi lebih baik, sementara tukang bohong sulit diapa-apakan.


Pesan untuk blog general-surgery ?
Sudah cukup bagus, bisa ditambah dengan laporan kasus yang diangkat dalam laporan jaga dan sudah dibahas di divisi. Ini bisa menjadi satu pembelajaran buat kita.


*M-B-W-O-I-M*